English


PRESS RELEASE

Calon Presiden Riau Merdeka Ketahuan Menyandang Gelar Aspal

Tokoh yang belakangan ini sering disebut sebagai salah seorang Presiden Riau Merdeka ternyata bertahun-tahun menyandang gelar akademis MA yang tidak pernah diraihnya. Drs. Al Azhar yang menurut pengakuannya sendiri di dalam buku Dari Unri Menebar Karya: Pergulatan hidup 17 alumni UNRI meraih sukses (Bahana Press, Pekanbaru 2002) memperoleh gelar MA dari Universitas Leiden, serta sedang melanjutkan program doktornya (S3) di Belanda ternyata tidak pernah menyelesaikan studi Magister Artium di Universitas Leiden. Demikianlah keterangan Juliette de la Bretonire dari Universitas Leiden yang juga dikonfirmasikan oleh Willem van Beelen, koordinator program S2 dan S3 di universitas yang sama, yang mengakui bahwa menurut catatan yang ada pada universitas tersebut belum pernah ada orang bernama Al Azhar yang menyelesaikan program S2 ataupun sedang terdaftar dalam program pascasarjana.

21 April 2004
Indonesian Language Program Coordinator

DR Uli Kozok, MA


BERITA LENGKAP

Buku Dari Unri Menebar Karya: Pergulatan hidup 17 alumni UNRI meraih sukses yang diterbitkan Bahana Press, Pekanbaru (2002), di halaman 25-34 memuat riwayat hidup budayawan Al Azhar (Jl Datuk Laksamana 3, Pekanbaru 28121, Tel. 0761-22555). Lelaki yang konon punya aspirasi menjadi Presiden "Riau Merdeka" di dalam buku tersebut antara lain mengatakan:

1.     Bahwa dia memperoleh gelar M.A. dari Universitas Leiden, Belanda (gelar lengkapnya disebut sebagai Drs. Al Azhar, MA)

2.     Bahwa dia sedang menjalani program S3 di Belanda dengan beasiswa dari pemerintah Belanda.

Kenyataanya adalah bahwa Drs. Al Azhar pernah terdaftar di program S2 di Belanda, tetapi tidak pernah sampai selesai. Dia juga tidak terdaftar sebagai mahasiswa S3 di Belanda.

Drs. Al Azhar bukan satu-satunya orang Indonesia yang gagal mencari gelar di luar negeri. Hal itu dapat dimaklumi karena perbedaan budaya pendidikan di luar negeri ditambah lagi dengan kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Dengan demikian kegagalan itu sendiri bukan hal yang memalukan. Seandainya Al Azhar secara berterus terang mengakui bahwa studi S2 di Belanda tidak pernah dapat ia selesaikan, orang pasti akan memaklumi hal tersebut.

Di mana-mana di media masa Al Azhar dengan bangga menyandang gelar S2 yang tidak pernah diraihnya, misalnya di Media Indonesia (12.1.1999), Kompas (17.9.1996, 19.3.1999, 8.8.2000, 17.12.2000, 6.8.2001, 10.8.2001, 27.11.2001), Media Indonesia (1.12.1999) dan Tempo Interaktif (6.4.2001). Malahan di situs Internet Universitas Islam Riau Drs. Al Azhar disebut sebagai "Ketua Lembaga Penelitian Drs.Al Azhar,MA. Situs lainnya yang menampilkan nama Al Azhar dengan gelar hiasan palsu termasuk:Peringatan Pujangga Raja Ali Haji dan situs Simposium Manassa.

Setelah membaca buku Dari Unri Menebar Karya di mana Al Azhar mengakui memperoleh gelar S2 di Universitas Leiden dan malahan sekarang menjalani masa cuti di UIR karena sedang melanjutkan program doktornya (S3) di Belanda(hal. 29) yang konon dibiayai dengan beasiswa dari pemerintah Belanda (hal.33) kami menghubungi Universitas Leiden menanyakan status dia yang sebenarnya. Jawaban yang kami peroleh adalah:

1.     Drs. Al Azhar pernah terdaftar di program studi S2 tetapi tidak pernah menyelesaikannya.

2      Drs. Al Azhar tidak pernah dan tidak terdaftar di program studi S3 di Universitas Leiden.

Untuk keterangan selanjutnya silakan menghubungi pihak Universitas Leiden:
Juliette de la Bretonire
Talen en culturen van Zuidoost-Azi en Oceani (Indonesi)
Postbus 9515
2300 RA Leiden
Telefon: 071- 527 2418
Fax: 071- 527 2614
E-mail: secrtczoao @ let.leidenuniv.nl

Lampiran: Email dari Universitas Leiden

From: "Bretoniere, J.I. de la" <J.I.de.la.Bretoniere @ LET.leidenuniv.nl>
Date: Thu, 29 Jan 2004 10:16:49 +0100
To: "'kozok @ hawaii.edu'"
Subject: FW: Drs. Al Azhar, MA

Dear Dr. Kozok,

In reply to your request about drs. Al Azhar's graduation for a Masters Degree at Leiden University, I can inform you that - after inquiring - drs. Al Azhar indeed was a teaching assistant in the Indonesian language programm and that he received financial support for his masters-study. His promotor was Professor Dr. Hendrik Maier who is currently connected to the Department of Comparative Literature of the University of Riverside, California, USA (e-mail: hmjmaier @ hotmail.com).
But drs. Al Azhar did not get a Masters Degree at our university.

I hope that I informed you in this matter sufficiently.
Yours sincerely,
Juliette de la Bretonière